Saturday, January 18, 2014

Idealis vs Realistis

Seseorang yang idealis dapat dilihat dari perilaku, ide, sikap, ataupun cara berpikirnya. Beberapa orang berpendapat negatif tentang idealisme. Ada yang menganggap bahwa idealisme adalah suatu hal yang konyol karena seseorang yg idealis pasti memiliki kesetiaan pada suatu impian tertentu yang diyakini benar. Mereka bisa saja langsung menyindir secara terang-teragan ataupun menjatuhkannya di depan publik. Namun, bagaimana dengan seseorang yang realistis?

Seseorang yang realistis cenderung mengikuti arus. Pola pikirnya mengikuti lingkungan dan orang tersebut tidak terlalu peduli dengan semua kebenaran yang ia yakini. Pada umumnya, seseorang yang realistis terpengaruh dengan hal-hal yang berkaitan dengan materi. Mereka tidak menganggap bahwa mengejar impian adalah segalanya. Mereka terfokus pada pemenuhan kebutuhan materi dan berjalan mengikuti situasi yang sedang terjadi.

Saya pribadi adalah seseorang yang idealis. Saya menilai tinggi akan seberapa besar tekad saya untuk mengejar impian dan bagaimana saya bisa berhasil mencapai target tersebut. Sayangnya, kenyataan berbicara sebaliknya. Banyak pihak luar yang menganggap "aneh" akan idealisme saya. Mereka berpendapat bahwa saya mengejar sesuatu yang abstrak dan lebih tepatnya mereka berkata seperti ini : "bagaimana kamu bisa hidup dengan idealismu itu? Bagaimana kamu bisa bertahan hidup?" Saya tidak dapat menjelaskan hal ini kepada mereka karena saya paham bahwa mereka tidak memiliki mimpi ataupun tidak ada keinginan untuk memiliki mimpi. Saya memilih untuk tetap pada idealisme saya dan mengabaikan semua sindiran atau masukan dari pihak luar.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, saya semakin takut memikirkan masa depan. Saya mulai berpikir tentang segala pendapat dari pihak luar yang menyangkut idealisme saya. "Apakah mungkin saya mencapai idealisme saya? Apakah mungkin saya berhasil mengikuti idealisme saya tanpa memikirkan realitanya?" Semua pertanyaan dan ketakutan menyerang diri saya. Saya mulai mengerti alasan "mereka" berpendapat seperti itu. Selama ini, saya terlalu naif sehingga saya melupakan realitanya. Porsi idealisme dan realistis yang ada di dalam diri saya tidak seimbang. Saya ingin menggapai impian saya namun saya terlalu cuek akan pemenuhan kebutuhan diri saya sendiri. Saya tidak berpikir bagaimana saya bisa survive kalau tidak ada pemasukan yang cukup? Bagaimana saya bisa melanjutkan pendidikan jika tidak ada support materi yang cukup? Saya bukan seseorang yang outstanding ataupun the most talented one. Saya sadar akan kemampuan saya dan tidak mungkin seseorang datang tiba-tiba hanya untuk mewujudkan impian saya, memberikan segalanya, supports everything, and everything's done! I also need a good financial for myself, but how can I get it?

This is the hardest part for me! I want my idealism still stays on track, but I have to earn money without changing my perception about idealism. I don't want to work with my idealism but my purpose is not about passionate in my dream anymore (it's all about money now?). It's getting more complicated now !

Sampai sekarang, saya belum menemukan cara untuk mengatasinya dan saya masih bergumul akan 2 hal ini - idealis dan realistis. Inti dari sharing saya ini adalah saya sadar bahwa idealisme tidak bisa bekerja sendiri. Idealisme itu adalah suatu perubahan yang tidak terjadi karena suatu kondisi. Perubahan tersebut bisa dikabulkan kalau kita memiliki keberanian. Idealisme harus berpasangan dengan realisme. Tanpa adanya realisme, idealisme hanya seakan-akan menjadi angan-angan saja. Idealisme tanpa realisme hanya seperti khayalan semata. Realisme diperlukan untuk mendukung idealisme dalam kenyataannya.  Kombinasi akan sikap idealis dan realistis akan menghasilkan output yang luar biasa. Masing-masing pandangan ini saling melengkapi satu sama lain, tidak ada yang berkesan negatif jika keduanya dijalankan bersamaan.

No comments:

Post a Comment